MAKALAH
Dosen
Pembimbing:
Ns.
Giat Wantoro, S. Kep
Disusun
oleh Kelompok II:
Agustian 2012
21 039
Rahmad Zikri 2012 21 043
Desi Mustika Wati 2012 21 045
Anna Lutfiana 2012 21 051
Lusi Dinasari 2012 21 055
Muldi Hamzah 2012 21 057
Elien Jisca 2012 21 059
M. Afandi 2012 21 061
Najwa 2012
21 063
Ekky Herian 2012 21 065
Dwi Larasati 2012 21 067
Fredy 2012
21 069
Imelia 2012
21 073
Purnama Marga Ningsih 2012 21 077
Yulianti 2012
21 081
Dwi Noviyanti 2012 21 083
Jocko Try Anggoro 2012 21 085
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAITURRAHIM JAMBI
PRODI S1 KEPERAWATAN
JAMBI, 2014
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala hikmat yang diberikan-Nya, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan.
Makalah ini kami
susun untuk memenuhi tugas bidang studi Keperawatan Sistem Reproduksi Tahun Ajaran
2013/2014 di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim Jambi. Kami berharap
semoga Makalah ini mampu memberi ilmu pengetahuan bagi kami dan pembaca.
Kami senantiasa
mengharapkan masukan dan saran demi penyempurnaan makalah ini. Semoga Makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
|
i
|
Jambi, 17 November 2014
Kelompok II
|
ii
|
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1
1.1
Latar
Belakang ................................................................. 1
1.2
Rumusan
Masalah ................................................................. 1
1.3
Tujuan ................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................... 3
2.1
Pengertian ................................................................. 3
2.2
Etiologi ................................................................. 3
2.3
Patofisiologi ................................................................. 5
2.4
Manifestasi
Klinik ................................................................. 8
2.5
Pemeriksaan
Penunjang............................................................... 8
2.6
Penatalaksanaan ................................................................. 9
2.7
Pencegahan ................................................................. 9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN................................................ 10
3.1
Pengkajian ................................................................. 10
3.2
Diagnosa
Keperawatan................................................................ 11
3.3
Nursing
Care Plan (NCP)............................................................ 12
3.4
Implementasi ................................................................. 13
3.5
Evaluasi ................................................................. 13
BAB IV PENUTUP ................................................................. 15
4.1
Kesimpulan ................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 16
|
1
|
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Mual dan muntah pada kehamilan umumnya disebut morning sickness, dialami oleh sekitar
70-80% wanita hamil dan merupkan fenomena yang sering terjadi pada umur
kehamilan 5-12 minggu (Edelman, 2004; Quinland, 2005).
Bila keadaan mual dan muntah yang semakin berat dan
tidak tertanggulangi, maka disebut hiperemesis gravidarum.
Makalah ini membahas tentang teori dari hiperemesis
gravidarum dan asuhan keperawatannya.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang kami ambil adalah:
1.
Jelaskan
pengertian Hiperemesis Gravidarum?
2.
Apa
saja etiologi Hiperemesis Gravidarum?
3.
Bagaimana
patofisiologi Hiperemesis Gravidarum?
4.
Bagaimana
manifestasi klinis Hiperemesis Gravidarum?
5.
Apa
pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk Hiperemesis Gravidarum?
6.
Bagaimana
penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum?
7.
Bagaimana
pencegahan Hiperemesis Gravidarum?
8.
Bagaimana
asuhan keperawatan Hiperemesis Gravidarum?
1.3
Tujuan
Umum:
Mahasiswa mampu memahami secara garis besar mengenai
Hiperemesis Gravidarum.
Khusus:
1.
Mahasiswa
mampu menjelaskan pengertian Hiperemesis Gravidarum.
2.
Mahasiswa mengetahui
etiologi Hiperemesis Gravidarum.
|
2
|
3.
Mahasiswa
mengetahui patofisiologi Hiperemesis Gravidarum.
4.
Mahasiswa
mengetahui manifestasi klinis Hiperemesis Gravidarum.
5.
Mahasiswa
mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada Hiperemesis Gravidarum.
6.
Mahasiswa
mengetahui pentalaksanaan untuk Hiperemesis Gravidarum.
7.
Mahasiswa
mengetahui pencegahan untuk Hiperemesis Gravidarum.
8.
Mahasiwa
mengetahui asuhan keperawatan Hiperemesis Gravidarum.
|
3
|
|
ii
|
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
·
Hiperemesis
gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita
hamil sehingga menyebabkan terjadimya ketidakseimbangan kadar elektrolit,
penurunan berat badan (lebih dari 5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan
kekurangan nutrisi (Sherwan, 1999; Old, 2000; Micheline, 2004; Edelman, 2004;
Pawii, et al., 2005).
(Runiari.
N, 2010)
·
Hiperemesis
Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai
mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena
terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998).
·
Hiperemesis
Gravidarum (vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah nousea dan vomitus
dalam kehamilan yang berkembang sedemikian luas sehingga menjadi efek sistemik,
dehidrasi dan penurunan berat badan (Ben-Zion, MD, hal: 232).
·
Hiperemesis
Gravidarum diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama
kehamilan (Hellen Farrer, 1999, hal: 112).
2.2
Etiologi
dan Faktor Predisposisi
Etiologi hiperemesis gravidarum belum diketahui
dengan pasti. Ada beberapa teori menjelaskan terjadinya hiperemesis gravidarum,
namun tak ada satupun yang dapat menjelaskan proses terjadinya secara tepat
(Simpson, et al., 2001). Teori tersebut antara lain Teori Endokrin, Teori
Metabolik, Teori Alergi, Teori Infeksi, dan Teori Psikosomatik (Family Nurse
Practitioner Program, 2002; Tiran, 2004).
|
4
|
Teori metabolik menyatakan bahwa kekurangan vitamin
B6 dapat mengakibatkan mual dan muntah pada kehamilan. Adanya histamine sebagai
pemicu dari mual dan muntah mendukung ditegakkannya teori alergi sebagai
etiologi hiperemesis gravidarum. Lebih jauh, mual dan muntah berlebihan juga
terjadi pada klien yang sangat sensitive terhadap sekresi dari korpus luteum
(Snell, 1998; Kuscu & Koyuncu, 2002; Verberg, et al., 2006).
Teori psikosomatik, hiperemesis gravidarum merupakan
keadaan gangguan psikologis yang dirubah dalam bentuk gejala fisik (Simpson,
2002; Michelini, 2004). Kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan
serta tekanan pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan berduka,
ambivalen, serta konflik; dan hal tersebut dapat menjadi faktor psikologis
penyebab hiperemesis gravidarum (Verberg, et al., 2005).
Leeners dan Sauer (2000) menytakan bahwa faktor
psikologis sangat kuat terlibat sebagai etiologi hiperemesis gravidarum dan
dampaknya tidak lama dan beratnya gejala, namun juga menimbulkan resisten
terhadap pengobatan yang diberikan.
Tiran (2004) menyatakan bahwa faktor budaya yang
merupakan hal penitng adalah berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan
dikonsumsi.
2.3
Patofisiologi
Patofisiologi hiperemesis gravidarum masih belum
jelas (Meltzer, 2000; Neill & Nelson, 2003, Edelman, 2004); namun
peningkatan kadar progesterone, estrogen, dan human chorionic gonadotropin (hCG) dapat menjadi faktor pencetus
mual dan mundah. Peningkatan hormone progesterone menyebabkan otot polos pada
sistem gastrointestinal mengalami relaksasi sehingga motilitas lambung menurun
dan pengosongan lambung melambat. Refluks esofagus penurunan motilitas lambung,
dan penurunan sekresi asam hidroklorid juga berkontribusi terhadap terjadinya
mual dan muntah. Hal ini diperberat dengan adanya penyebab lain berkaitan
dengan faktor psikologis, spiritual, lingkungan, dan sosiokultural.
|
6
|
Pada beberapa kasus berat, perubahan yang terjadi
berhubungan dengan malnutrisi dan dehidrasi yang menyebabkan terdapatnya
nonprotein nitrogen, asam urat, urea, dan penurunan klorida dalam darah.
Kekurangan vitamin B1, B6, dan B12 mengakibatkan terjadinya neuropati perifer
dan anemia; bahkan pada kasus berat kekurangan vitamin B1 dapat mengakibatkan terjadinya wernicke
enchelopati (Manuaba, 2001: Kuscu & Koyancu, 2002; Neill & Nelson,
2003).
(Runiari.
N, 2010)
(Runiari.
N, 2010)
2.4
Manifestasi
Klinik
|
8
|
a.
Tingkat
I
Muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum.
Pada tingkatan ini klien merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan
menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100x/menit, tekanan
darah sistol menurun, dapat disertai peningkatan suhu tubuh, turgor kulit
berkurang, lidah kering, dan mata cekung.
b.
Tingkat
II
Klien tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit
lebih menurun, lidah kering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, tekanan
darah turun, sehu kadang-kadang naik, hemokonsentrasi, oliguria, dan
konstipasi.
c.
Tingkat
III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran
menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun,
serta suhu meningkat. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal
sebagai wernicke ensefalopati. Gejala yang dapat timbul seperti nistagmus, zat
makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan terjadinya
payah hati. Pada tingkatan ini juga terjadi perdarahan dari esophagus, lambung
dan retina.
(Runiari.
N, 2010)
2.5
Pemeriksaan
Penunjang
a.
Urinalisis
untuk menentukan adanya infeksi dan/atau dehidrasi meliputi pemeriksaan keton,
albumin, dan berat jenis urin.
b.
Kadar
hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht).
c.
Pemeriksaan
elektrolit jika terjadi dehidrasi dan diduga terjadi muntah berlebihan meliputi
pemeriksaan natrium, kalium, klorida, dan protein.
d.
Pemeriksaan
Blood Urea Nitrogen (BUN), nonprotein nitrogen, dan kadar asam.
e.
Tiroid Stimulating
Hormon (TSH) untuk menentukan penyakit pada tiroid.
|
9
|
f.
CBC,
amilase, lipase, keadaan hati atau jika diduga terjadi infeksi sebagai
penyebab.
g.
Foto
abdomen jika ada indikasi gangguan abdomen akut.
h.
Kadar
hCG jika diduga kehamilan multiple atau mola hidatiformis.
(Runiari. N, 2010)
2.6
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
mual dan muntah pada kehamilan tergantung pada beratnya gejala. Pengobatan
dilakukan mulai dari yang paling ringan dengan perubahan diet sampai pendekatan
dengan pengobatan antiemetik, rawat inap, atau pemberian nutrisi parenteral.
Pengobatan terdiri atas terapi secara farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi
farmakologi dilakukan dengan pemberian antiemetik, antihistamin,
antikolinergik, dan kortikosteroid. Terapi nonfarmakologi dilakukan dengan cara
pemberian diet, dukungan emosional, akupuntur, dan jahe (Quinland, et al.,
2005).
(Runiari.
N, 2010)
2.7
Pencegahan
·
Pencegahan
hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik
pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan
mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih
sering.
·
Waktu
bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk
makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
·
Makanan
yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
·
Makanan
dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.
|
10
|
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1. Pengkajian Data Subjektif
a. Riwayat kehamilan saat ini meliputi ada
tidaknya gemeli, riwayat pemeriksaan antenatal dan komplikasi.
b. Riwayat diet, khususnya intake cairan.
c. Pengobatan yang didapat saat ini.
d. Riwayat pembedahan khususnya pembedahan
pada umumnya.
e. Riwayat medis sebelumnya seperti
riwayat penyakit obstetri dan ginekologi, kolelitiasis atau gangguan abdomen
lainnya, gangguan tiroid, dan ada tidaknya depresi.
f. Riwayat sosial seperti terpapar
penyakit yang mengganggu komunikasi, terpapar dengan lingkungan, tercapainya
pelayanan antenatal, peran, tanggung jawab, pekerjaan, ketidakhadiran di tempat
bekerja, perubahan status kesehatan atau stresor kehamilan, respons anggota
keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan kondisi sakit, serta
seistem pendukung.
g. Integritas ego seperti konflik
interpersonal keluarga, kesulitan ekonomi, perubahan persepsi tentang kondisi,
dan kehamilan yang tidak direncanakan.
h. Riwayat penyakit sebelumnya meliputi
awal kejadian dan lamanya. Jika mengalami muntah, kaji warna, volume,
frekuensi, dan kualitasnya. Kaji juga faktor yang memperberat dan memperingan
keadaan, serta pengobatan yang dilakukan baik di fasilitas kesehatan atau
pengobatan di rumah.
i.
Gejala-gejala
lain seperti bersendawa atau flatus, diare atau konstipasi, serta nyeri pada
abdomen. Riwayat nyeri abdomen meliputi lokasi, derajat, kualitas, radiasi,
serta faktor yang memperingan dan memperberat nyeri.
j.
Pengkajian lain dapat
dilakukan dengan menggunakan Rhodes Index of Nausea and Vomiting yang
terdiri atas 8 pertanyaan untuk mengkaji frekuensi dan beratnya mual dan
muntah. Instrument ini telah di teliti valid dan reliabel oleh Family Nurse
Practitioner program, School of Nursing, University of Texas at
Austin.
|
11
|
(Runiari.
N, 2010)
2. Pengkajian Data Objektif
a. TTV: ada tidaknya demam, takikardi, hipotensi, frekuensi nafas
meningkat, adanya nafas bau aseton
b. Status Gizi: Berat Badan meningkat/menurun
c. Status Kardiovaskuler: kualitas nadi, takikardi, hipotensi
d. Status Hidrasi: Turgor kulit, keadaan membrane mukosa, oliguria
e. Keadaan Abdomen: Suara Abdomen, adanya nyeri lepas/tekan, adanya
distensi, adanya hepatosplenomegali, tanda Murpy.
f. Genitourinaria: nyeri kostovertebral dan suprapubik
g. Status Eliminasi: Perubahan konstipasi feses, konstipasi dan
perubahan frekuensi berkemih
h. Keadaan janin: Pemeriksaan DJJ, TFU, dan perkembangan janin
(apakah sesuai dengan usia kehamilan)
3.2
Diagnosa
Keperawatan
1.
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
2.
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
3.
Kekurangan
volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif (mual dan muntah berlebihan)
4.
Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan penurunan energi dan kelelahan.
3.3
Nursing Care Plan
|
12
|
|
No
|
Dx. Keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
Aktivitas
|
|
|
1
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual
dan muntah
|
Memperlihatkan Status Gizi: Asupan Gizi yang dibuktikan pasien
dapat makan seperti biasanya
|
• Mual / Muntah
|
• identifikasi faktor pencetus Mual dan Muntah
|
|
|
• catat warna, jumlah, dan frekuensi muntah
|
|||||
|
• minimalkan faktor yang dapat menyebabkan mual dan muntah
|
|||||
|
• instruksikan pasien agar menarik napas dalam, perlahan dan
menelan secara sadar
|
|||||
|
Kolaborasi:
|
|||||
|
• berikan obat antiemetik sebelum makan atau sesuai jadwal yang
di anjurkan
|
|||||
|
• Manajemen Nutrisi
|
• pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
|
||||
|
• berikan pasien minuman dan kudapan bergizi, tinggi protein,
tinggi kalori
|
|||||
|
2
|
Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
|
Menunjukkan toleransi aktivitas dibuktikan pasien dapat melakukan
kegiatan seperti biasa.
|
• Manajemen Energi
|
• tentukan penyebab keletihan
|
|
|
• pantau asupan nutrisi untuk menentukan sumber energi yang
adekuat
|
|||||
|
3
|
Kekurangan volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif
(mual dan muntah berlebihan)
|
Kekurangan volume cairan akan teratasi dibuktikan keseimbangan
air dalam kompartemen intrasel dan ekstrasel tubuh
|
• Manejemen Cairan
|
• pantau status hidrasi
|
|
|
• tingkatkan asupan oral
|
|||||
|
Kolaborasi:
|
|||||
|
• berikan terapi IV, sesuai program
|
|||||
|
|
|||||
|
4
|
Ketidakefektifan pola napas b/d penurunan energi dan kelelahan
|
Menunjukkan pola pernapasan efektif, yang dibuktikan pergerakan
udara ke dalam dan ke luar paru tidak terganggu
|
• Pemantauan Pernapasan
|
• pantau kecepatan, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan
|
|
|
• pantau pola pernapasan
|
|||||
|
• pantau pergerakan dada
|
|||||
|
• auskultasi suara napas
|
|||||
|
|
|||||
(Wilkinson.
J.M, dan Ahern. N.R, 2011)
3.4
Implementasi/Pelaksanaan
|
13
|
(Runiari.
N, 2010)
3.5
Evaluasi
Hal-hal yang perlu dievaluasi pada asuhan
keperawatan klien dengan hiperemesis gravidarum.
1.
Keseimbangan
cairan dan elektrolit.
a.
Turgor
kulit.
b.
Membrane
mukosa.
c.
Berat badan sesuai
dengan umur kehamilan.
|
14
|
d.
Tanda-tanda
vital.
e.
Pemeriksaan
laboratorium: elektrolit serum, Hb dan Ht, serta berat jenis urine.
2.
Frekuensi
dan beratnya muntah.
3.
Intake
oral.
4.
Kemampuan
dalam beraktifitas.
BAB IV
PENUTUP
|
15
|
4.1
Kesimpulan
Hiperemesis
gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil yang
penyebabnya belum diketahui pasti. Namum ada beberapa faktor predisposisi
terjadinya hiperemesis gravidarum pada wanita hamil. Faktor predisposisi antara
lain faktor fisiologi, faktor lingkungan, faktor psikospiritual, dan faktor
sosiokultural.
Hiperemesis
gravidarum dibagi menjadi 3 berdasarkan dari tingkatan tanda dan gejalanya.
Pemeriksaan
lanjutan untuk huiperemesis gravidarum antara lain: urinalisis, kadar Hb dan
Ht, pemeriksaan elektrolit, pemeriksaan BUN, TSH, CBB, amilase, lipse, keadaan
hati, foto abdomen dan kadar hCG.
Penatalaksanaan
mual dan muntah pada wanita hamil tergantung berat ringannya gejala.
Salah satu
pencegahan agar tidak terjadinya hiperemesis gravidarum pada wanita hamil
adalah makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat
dingin.
|
16
|
Runiari. N,
2010, Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis Gravidarum: Penerapan
Konsep dan Teori Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Wilkinson. J.M,
dan Ahern. N.R, 2011, Buku Saku Diagnosis Keperawatan : diagnosis NANDA,
intervensi NIC, kriteria hasil NOC, ahli bahasa Esty Wahyuningsih, Jakarta: EGC
http://fajrucmedicine.blogspot.com/2013/02/hiperemesis-gravidarum.html posted by fajrucmedicine at Friday,
February 1st, 2003
http://binbask.blogspot.com/2013/01/askep-hiperemesis-gravidarum.html posted by Bintang Baskoro at Sunday,
Januari 13th, 2013


